nusantrakini.co, PPU – Masalah jalan rusak di Kalimantan Timur, khususnya di wilayah Penajam Paser Utara (PPU), tak kunjung usai. Ketua Komisi II DPRD PPU, Thohiron, menilai akar persoalannya bukan semata pada perawatan atau lalu lintas yang padat, tetapi pada ketidaksesuaian struktur jalan aspal dengan karakteristik tanah dan cuaca di wilayah tersebut.
“Sekarang ini kan sebenarnya untuk struktur di Kalimantan, jalan aspal ini kan memang kurang bagus,” ujar Thohiron saat ditemui dalam sesi evaluasi infrastruktur di kantor DPRD.
Menurutnya, kondisi geografis Kalimantan yang cenderung memiliki curah hujan tinggi sepanjang tahun mempercepat kerusakan jalan beraspal. Belum lagi karakter tanah yang labil, membuat permukaan aspal mudah tergerus dan retak.
“Karena aspal dengan kondisi daerah yang sering hujan secara terus-menerus, kan mudah terkikis. Apalagi struktur tanahnya kurang kuat,” jelasnya.
Thohiron mengatakan bahwa permasalahan jalan rusak tidak bisa diatasi hanya dengan tambal sulam. Diperlukan perubahan pendekatan konstruksi yang lebih tahan lama dan sesuai dengan kondisi lokal.
Menurutnya, pilihan paling rasional dan tahan terhadap cuaca ekstrem serta tanah lunak adalah pembangunan jalan dengan konstruksi rigid beton.
“Caranya, sebenarnya rigid beton jalan satu-satunya. Tetapi memang biayanya juga enggak sedikit,” kata dia.
Rigid pavement atau jalan beton dianggapnya sebagai solusi jangka panjang, meski membutuhkan biaya investasi yang besar di awal. Namun ia menekankan, investasi tersebut akan sebanding dengan usia jalan yang lebih panjang dan penghematan anggaran perawatan di kemudian hari.
Selama ini, banyak ruas jalan di PPU yang berkali-kali diperbaiki karena cepat rusak usai hujan deras. Tambal sulam dilakukan hampir setiap tahun, namun belum juga memberikan hasil yang optimal.
Di tengah keterbatasan anggaran dan tingginya kebutuhan infrastruktur, Thohiron mengajak pemerintah daerah untuk mulai mempertimbangkan sistem pembangunan yang lebih tahan lama, meskipun mahal di depan. (ADV)






