nusantarakini.co, SAMARINDA – Komisi IV DPRD Kota Samarinda menegaskan pentingnya penguatan koordinasi antar instansi dalam menanggulangi persoalan stunting yang masih menjadi tantangan serius di Kota Tepian. Angka prevalensi stunting di Samarinda saat ini tercatat berada di kisaran 24,4 persen.
Rapat dengar pendapat atau hearing yang digelar di Balai Kota Samarinda, menjadi momen penting untuk mengevaluasi capaian dan strategi terbaru dalam penanganan stunting tahun 2024-2025.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, dr Sri Puji Astuti, mengatakan bahwa upaya pengurangan stunting sejauh ini sudah menunjukkan hasil, meski belum terlalu signifikan.
“Kami tidak berharap angka itu turun drastis dalam waktu singkat, tetapi setidaknya ada tren penurunan,” ujarnya. Kamis (10/04/2025)
Ia menyebut, pada 2023 lalu, angka stunting berhasil ditekan sekitar 0,9 persen. Meskipun relatif kecil, hal ini menunjukkan bahwa program-program yang dijalankan mulai memberikan dampak.
“Anak-anak yang lahir dan tumbuh di periode 2025–2026 harus menjadi bagian dari indikator kinerja utama pemerintah kota. Mereka bisa menjadi tolok ukur dalam upaya pengentasan stunting sekaligus kemiskinan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Sri Puji menilai bahwa capaian yang konkret dan data yang valid akan memudahkan dalam menentukan target penurunan stunting ke depan. Ia berharap hingga masa jabatan Wali Kota Andi Harun dan Wakil Wali Kota Saefuddin Zuhri berakhir pada 2029, terjadi perbaikan signifikan dalam aspek kesehatan anak dan gizi masyarakat.
“Jika semua pihak terlibat aktif dan bekerja secara terintegrasi, maka penanganan stunting bisa lebih terarah dan menyeluruh,” pungkasnya. (ADV/Rangga)






