nusantarakini.co, Samarinda – Anggota Komisi I DPRD Kota Samarinda, Adnan Faridhan, menyoroti tingginya kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di Samarinda dan sekitarnya.
Hingga tahun ini, tercatat 117 kasus yang dilaporkan. Tragisnya, banyak pelaku berasal dari lingkungan terdekat korban.
“Ini yang kita fokuskan saat ini. Ada paman memperkosa keponakan, kakek memperkosa cucu, hingga bapak memperkosa anaknya sampai hamil. Ini persoalan serius yang harus kita bereskan bersama,” kata Adnan.
Adnan mengungkapkan bahwa selama ini Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) telah bekerja dengan ikhlas dan konsisten menangani kasus-kasus tersebut, meski tanpa dukungan dana dan fasilitas yang memadai.
“Mereka tidak punya dana, motor pun tidak ada. Tapi tetap ikhlas turun ke lapangan. Kalau ada kasus di Kutim, mereka tetap berangkat, padahal tidak ada kendaraan,” ungkapnya.
Melihat kondisi itu, Adnan menginisiasi pertemuan antara TRC PPA dan Gubernur Kaltim. Hasilnya, terbentuk kesepakatan kolaborasi antara TRC PPA dan PKK Kaltim untuk memperkuat penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Alhamdulillah kemarin saya pertemukan dengan Ibu Gubernur, dan disepakati kolaborasi antara PKK Kaltim dengan TRC PPA. Semoga ini bisa meringankan kerja-kerja mereka,” ujar Adnan.
Ia berharap dengan dukungan ini, upaya perlindungan perempuan dan anak bisa lebih optimal, dan para relawan TRC PPA bisa bekerja lebih maksimal di lapangan. (N/ADV/Rangga)






