nusantarakini.co, PPU – Ketua Komisi II DPRD Penajam Paser Utara (PPU), Thohiron, menilai pelaku UMKM di daerahnya masih tertinggal dalam hal pemasaran. Minimnya pemanfaatan teknologi digital membuat produk lokal sulit menembus pasar yang lebih luas.
Menurut Thohiron, sebagian besar UMKM di PPU belum berada pada tahap yang memungkinkan mereka bersaing di pasar regional maupun nasional. Dari sisi kualitas produk hingga pemasaran, banyak yang masih menggunakan pola tradisional.
“Produk unggulan dari UMKM kita yang go publik belum ada. Kemudian dari sisi marketing, mereka masih kelola konvensional, sebatas jual, selesai,” ujarnya, Selasa (1/7/2025).
Ia menyampaikan, kondisi tersebut diperparah oleh fakta bahwa sebagian besar masyarakat PPU tinggal di wilayah pedesaan. Akibatnya, kemampuan digital para pelaku UMKM belum memadai, termasuk dalam memanfaatkan media sosial dan platform e-commerce untuk pemasaran.
“Seharusnya itu yang terus difasilitasi, digitalisasi produk. Masyarakat kita masih pedesaan, terkadang mereka apabila harus memasarkan lewat digital, masih menemukan kendala di lapangan. Mereka belum siap,” ujar Thohiron.
DPRD PPU meminta pemerintah daerah lebih intens memfasilitasi pelatihan digital marketing, pengemasan produk, serta strategi branding agar UMKM lokal bisa naik kelas dan mulai memasuki pasar yang lebih kompetitif.(ADV)








