nusantarakini.co , SAMARINDA – Angka stunting di Kota Samarinda masih berada di level 20,9 persen atau di atas target nasional sebesar 14 persen, meski tren penurunannya dalam beberapa tahun terakhir cukup signifikan.
“Target nasional 14 persen, tapi Samarinda masih 21 persen, tepatnya 20,9 persen. Memang targetnya 20 persen, tapi penurunan yang terjadi patut diapresiasi karena hasil dari intervensi pemerintah,” ujarnya, Selasa (26/8/2025).
Menurut Sri Puji, berbagai program intervensi spesifik sudah berjalan, mulai dari penimbangan anak, kunjungan ke Posyandu, pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil, hingga tablet penambah darah bagi remaja putri. Namun, ia menekankan bahwa intervensi kesehatan semata tidak cukup.
“Intervensi stunting tidak hanya soal kesehatan, tapi juga intervensi sensitif yang menyentuh lingkungan, pola hidup, hingga budaya keluarga. Ini yang butuh kerja keras,” jelasnya.
Ia menilai masih banyak faktor lingkungan yang menjadi penghambat, seperti sanitasi yang buruk, rendahnya kesadaran pengelolaan sampah, serta pola konsumsi masyarakat yang belum sehat. Perilaku merokok di rumah juga disebut sebagai ancaman serius bagi ibu hamil dan anak-anak.
“Bahkan di kawasan tanpa rokok pun orang masih merokok, termasuk di rumah di depan ibu hamil dan bayi. Budaya ini jelas menghambat upaya penurunan stunting,” tegasnya.
Sri Puji menegaskan, penanganan stunting membutuhkan kerja sama semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun keluarga. “Kalau intervensi spesifik dan sensitif berjalan bersamaan, target nasional bisa tercapai,” pungkasnya. (NK/ADV/Rangga)






