nusantarakini.co, SAMARINDA – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, menyoroti keterbatasan yang masih membayangi Museum Samarinda. Menurutnya, museum tersebut belum mampu berfungsi maksimal sebagai ruang edukasi sejarah karena minim koleksi, keterbatasan pengelolaan, serta dukungan anggaran yang terbatas.
“Melihat di dalamnya, Museum Samarinda itu juga masih terbatas. Saat ini Dinas Perpustakaan Daerah sedang berupaya mencari arsip atau sumber bahan yang bisa ditampilkan, dan prosesnya masih berjalan,” ujar Puji, Senin (25/8/2025).
Ia membandingkan kondisi Museum Samarinda dengan Museum Mulawarman di Tenggarong, yang dinilai lebih lengkap dan memiliki daya tarik kuat karena jejak sejarah kerajaannya.
“Kalau dibandingkan dengan museum di Tenggarong jelas berbeda. Samarinda ini mestinya juga bisa menghadirkan jejak sejarah orang asli Samarinda, tapi itu belum tergali,” katanya.
Salah satu persoalan utama, lanjutnya, adalah struktur pengelolaan museum yang berada di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Hal tersebut membuat alokasi anggaran kebudayaan tidak fokus.
“Ini menghambat. Anggaran yang seharusnya bisa khusus untuk museum justru bercampur dengan urusan lain, sehingga tidak maksimal,” tegasnya.
Selain faktor kelembagaan, ia menyebut tantangan lain adalah kondisi masyarakat Samarinda yang multikultural. Hal ini membuat museum kesulitan menampilkan satu identitas budaya tertentu sebagai daya tarik utama.
Pengumpulan koleksi pun tidak mudah. Menurutnya, museum masih kesulitan mendapatkan benda bersejarah, lukisan, atau foto lama karena kurangnya kepercayaan masyarakat untuk menyerahkan barang peninggalan mereka.
Tak hanya itu, keterbatasan anggaran juga membuat program pengembangan museum terbatas. Kunjungan sekolah dari tingkat PAUD hingga SMA tetap berjalan, namun jumlahnya tidak banyak karena akses transportasi menuju museum belum memadai.
Dirinya juga menekankan pentingnya solusi konkret agar Museum Samarinda bisa berkembang.
“Perlu ada penataan organisasi, sosialisasi yang lebih gencar, dan peran serta masyarakat untuk mengisi museum ini. Kalau semua itu dilakukan, museum bisa menjadi pusat edukasi sejarah yang layak bagi warga Samarinda,” pungkasnya. (NK/ADV/Rangga)






