nusantarakini.co, PPU – Wakil Ketua I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Syahrudin M Noor, menyoroti masalah klasik yang kerap dihadapi petani saat memasuki masa panen kedua: harga jual gabah yang rendah di pasar.
Ia menegaskan bahwa persoalan ini bukan hanya soal pasarnya saja, tetapi berkaitan erat dengan kualitas hasil produksi yang tidak maksimal akibat berbagai kendala dari hulu ke hilir sektor pertanian.
“Kalau masalah panen itu yang selalu dominan dikeluhkan itu juga masalah pasca panen yang dimana di pasar harganya rendah,” kata Syahrudin, saat ditemui di ruang kerjanya, pekan ini.
Menurutnya, penurunan harga gabah saat musim panen kedua menjadi keluhan utama petani, terutama di wilayah sentra produksi seperti Babulu dan Waru. Harga yang diterima petani di tingkat pengepul seringkali tidak sebanding dengan biaya produksi yang mereka keluarkan sejak awal musim tanam.
Syahrudin menilai, salah satu penyebab rendahnya harga tersebut adalah kualitas hasil panen yang belum optimal. Ia menjelaskan bahwa kualitas gabah sangat ditentukan oleh berbagai faktor teknis mulai dari pemilihan bibit, kecukupan air, pemberian pupuk, hingga pola perawatan yang dijalankan selama masa tanam.
Jika satu saja dari rantai tersebut tidak berjalan baik, maka hasilnya akan memengaruhi kualitas dan akhirnya berdampak pada harga jual.
“Kenapa rendah karena kan kualitasnya kurang bagus, kenapa kurang bagus, tentu itukan banyak faktor dari hulu ke hilir dicek bagaimana kualitas bibit, air, perawatan dan pupuk,” ujarnya.
Masalah pasokan air dan akses terhadap pupuk, kata dia, masih menjadi tantangan utama yang belum sepenuhnya teratasi. Selain itu, belum meratanya pendampingan teknis dan minimnya infrastruktur penunjang pertanian turut memperbesar disparitas kualitas produksi antara musim panen pertama dan kedua.
“Jadi itu juga kan menyangkut outputnya kan ke kualitas produksi dan padinya nanti,” ujar Syahrudin. (ADV)






